in

Film Adaptasi Game Sering Dinilai Terburuk Tapi Tetap Dibuat

Prioritas utama dalam membuat film adaptasi game adalah menyajikan cerita yang menarik. Namun, permasalahannya adalah game lawas pada umumnya tidak mempunyai cerita yang terlalu dalam, seperti Tetris. Untungnya, saat ini semakin banyak kompleksitas cerita dalam game yang dijadikan sebagai nilai jual utama. Menariknya lagi adalah game juga dapat dijadikan sebagai media untuk menunjukkan idealisme dari sang kreator. Sehingga, cerita yang kurang menarik dalam game tidak lagi menjadi alasan mengapa film adaptasi game kerap kali dianggap mengecewakan. Namun, kondisi ini terkadang malah menjadi senjata makan tuan apabila tidak diolah dengan baik. Lantaran terkadang cerita yang terlalu kompleks justru dapat membuat para penonton merasa bingung. Sehingga tidak jarang film adaptasi game sering mendapatkan penilaian yang terburuk tetapi tetap sering diproduksi.

Cara Ellison yang merupakan seorang video game narrative designer memberikan pendapatnya dalam wawancara dengan The Guardian. Menurutnya, sebuah skenario film dapat dinilai bagus karena ringkas, tetapi sayangnya hal itu terkadang tidak berlaku pada game populer. Penulis skenario untuk acara televisi dan komik ini juga memberikan gambaran tentang game AAA dari franchise terkenal. Game yang memiliki durasi permainan minimal 15 jam ini menjadi target untuk diadaptasi oleh studio film. Sebenarnya bukan suatu hal yang mudah untuk memasukkan semua elemen dari sebuah game ke dalam film dengan berdurasi 120 menit saja.

Film Adaptasi Game Sering Dinilai Terburuk Tapi Tetap Dibuat Film

Gambar: Alasan film adaptasi dari game terbaik ini mendapat citra buruk selanjutnya adalah tidak semua game memiliki jalan cerita yang koheren

Alasan film adaptasi dari game terbaik ini mendapat citra buruk selanjutnya adalah tidak semua game memiliki jalan cerita yang koheren. Padahal game yang akan diadaptasi ke layar lebar secara ideal memiliki plot yang jelas dan padat. Apalagi tidak sedikit game yang memang menomorduakan plot cerita seperti game fighting atau game balapan. Lantaran film tersebut menonjolkan game play saja. Seperti game Tekken yang menjadikan fighting sebagai elemen utama permainan. Sebenarnya setiap karakter memiliki cerita masing-masing yang disajikan tidak sekompleks game The Outer Worlds yang memang fokus pada jalan cerita. Lagi pula siapa yang akan peduli apabila cerita Tekken tidak masuk akal? Pasalnya hampir semua orang yang bermain Tekken tidak untuk mengejar ceritanya. Namun, kreator tetap harus memberikan cerita yang koheren tetapi tidak melenceng terlalu jauh dari sumbernya ketika mengadaptasi game menjadi film.

Para kreator film juga harus memastikan film tersebut akan disukai penggemar game ketika mereka membuat film adaptasi game. Mereka juga perlu memastikan bahwa film juga dapat dinikmati oleh penonton yang tidak pernah memainkan game tersebut. Lauren O’Callaghan yang merupakan seorang editor di situs game dan hiburan bernama Gamesradar mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya, sebuah studio film biasanya biasanya gagal untuk memenangkan hati dari penggemar game dan penonton kasual. Lantaran mereka kebingungan dalam membuat film yang menarik sehingga justru membuat film yang biasa-biasa saja.

Film Adaptasi Game Sering Dinilai Terburuk Tapi Tetap Dibuat Film

Gambar: adegan elang dalam film Assassin’s Creed merupakan simbolisme dari game tersebut

Masalah lain yang mungkin muncul adalah memasukkan elemen khas dari game play dalam film dengan tujuan agar penggemar merasa familiar. Seperti adegan elang yang sedang terbang dalam film Assassin’s Creed. Sebenarnya bagi penonton yang kerap kali memainkan game buatan Ubisoft tersebut pasti memahami simbolisme dari adegan tersebut. Namun, tidak demikian dengan penonton kasual yang mungkin saja justru merasa kebingungan. CEO Digital Happiness yang juga seorang developer di balik DreadOut bernama Rachmad Imron memberikan pendapatnya. Menurutnya, tidak aneh apabila ada banyak film adaptasi game yang mendapatkan citra buruk karena dianggap gagal. Pasalnya sangat sulit untuk meringkas waktu bermain yang setidaknya 4-20 jam ke dalam film yang hanya berdurasi 2 jam. Selain itu, dia juga mengakui bahwa karakteristik penonton dan pemain game cukup berbeda sehingga perlu mencari keseimbangan di antara keduanya. Itu adalah alasan film adaptasi dari game terbaik ini mendapat citra buruk.

Berikut ini adalah alasan mengapa film adaptasi game sering dinilai terburuk tapi tetap dibuat:

1. Penilaian bagus tidaknya soal selera yang subjektif

Film adaptasi dari game sering kali mendapatkan stigma yang buruk meskipun permainan tersebut merupakan yang terbaik. Sehingga tidak mengherankan apabila kebanyakan dari film serupa justru dianggap gagal karena menuai banyak kritik dari penonton. Setidaknya hanya empat film yang meraih skor di atas 50 persen pada situs agregasi review film yang bernama Rotten Tomatoes. Jumlah tersebut dibandingkan dari puluhan film adaptasi game yang ada dalam daftar Wikipedia. Sebenarnya ini memang bagus tidaknya sebuah film memang soal selera yang penilaiannya secara subjektif. Bisa saja film yang menurut kita bagus tetapi malas tidak mendapatkan review yang gemilang oleh kebanyakan orang. Kendati begitu, skor di situs agregasi seperti Rotten Tomatoes atau Metacritic dapat menjadi sebuah tolak ukur untuk menghitung sesuatu. Apalagi secara general film adaptasi game mendapatkan skor yang rendah sehingga dapat disimpulkan bahwa film jenis ini memiliki citra buruk.

Film Adaptasi Game Sering Dinilai Terburuk Tapi Tetap Dibuat Film

Gambar: skor di situs agregasi seperti Rotten Tomatoes dapat menjadi sebuah tolak ukur untuk menghitung sebuah film

2. Tidak ada yang tahu pastinya

Alasan selanjutnya mengapa film adaptasi game sering dinilai terburuk tapi tetap dibuat adalah tidak ada yang tahu pastinya. Kondisi ini membuat banyak orang yang mulai mempertanyakan mengapa kebanyakan film adaptasi game dinilai gagal. Senior Media Analyst di Comscore bernama Paul Dergarabedian berpendapat bahwa sulit untuk memperkirakan sukses tidaknya sebuah film adaptasi game. Lantaran ada beberapa yang dianggap cukup meraih kesuksesan, seperti Tomb Raider dan The Angry Birds Movie. Namun, tidak dipungkiri ada juga yang gagal padahal telah menghabiskan biaya produksi yang sangat besar.

3. Penilaian mengecewakan tetapi meraup pemasukan besar

Sebenarnya ada sebuah fakta yang kontradiktif dari film adaptasi game. Memang film ini mendapatkan penilaian yang mengecewakan dari sudut pandang para kritikus film, tetapi terkadang dapat meraup pemasukan yang besar. Seperti Warcraft yang sangat populer di Tiongkok ini berhasil mendapatkan US$439 juta padahal hanya memiliki skor 28 di Rotten Tomatoes. Begitu pula, Assassin’s Creed yang mendapatkan US$240 juta padahal hanya memiliki skor 18 persen di situs yang sama. Sehingga studio film terus membuat film adaptasi game dengan menjustifikasi adanya potensi pemasukan yang besar meski sering dicap gagal. Itu adalah alasan mengapa film adaptasi game sering dinilai terburuk tapi tetap dibuat.

Selamat menonton! Kamu juga bisa melihat informasi dan rekomendasi seputar film lainnya di Tulizan Film.

Original Writer: https://www.instagram.com/deafolzen

What do you think?

Contributor

Written by Tulizan Film

Content AuthorYears Of Membership
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Kontroversi Pernikahan Dini Dongho Eks U-Kiss yang Berakhir Tragis - ShowBiz Liputan6.com

Tujuh Artis Korea Selatan Yang Memutuskan Untuk Menikah Muda

Cara menghitung umur di Korea kok ribet? Ini penjelasannya

Bagaimana Awal Mula Cara Perhitungan Usia di Korea Selatan?