in ,

Rekomendasi Film Indonesia Yang Adaptasi Dari Game dan Sebaliknya

Game tidak hanya diadaptasi menjadi film layar lebar, tetapi juga sebagai series di televisi seperti The Witcher. Sebenarnya cerita dari series The Witcher merupakan tidak diadaptasi dari game melainkan adaptasi dari novel berjudul sama karya Andrzej Sapkowski. Namun, alasan series ini memiliki sangat diminati karena popularitas dari game The Witcher yang dibuat oleh CD Projekt Red. Hal ini juga berlaku sebaliknya, di mana penjualan game RPG tersebut sempat melonjak naik berkat series The Witcher di televisi. Lalu, apakah ada rekomendasi film Indonesia yang adaptasi dari game lokal?

Series The Witcher di televisi memang mendapatkan sambutan yang sangat hangat. Sehingga, muncul wacana untuk membuat hal serupa dengan tema live action dari game-game seperti The Last of Us, Fallout, dan Halo. Menurut ScreenRant, semakin populernya layanan video-on-demand seperti Netflix menjadi salah satu alasan semakin banyak game yang diadaptasi ke series di televisi. Perusahaan VOD berusaha untuk menyediakan konten yang mereka produksi secara original sehingga game dapat menjadi salah satu ide yang menarik. Apalagi game memang telah memiliki penggemar tersendiri sehingga kreator film tidak merasa khawatir bahwa tidak ada yang melirik karya mereka.

Game memang sepertinya memang lebih cocok untuk diadaptasi ke series di televisi daripada ke film layar lebar. Lantaran, series di televisi menawarkan durasi yang jauh lebih panjang. Sehingga, penyajian karakter dan cerita dalam game bisa menjadi lebih baik karena memiliki waktu yang tidak terbatas seperti film. Waktu yang cukup panjang dalam series di televisi juga menjadikan kreator tidak perlu merasa khawatir akan membuat penonton merasa bosan.

Berikut ini adalah rekomendasi film Indonesia yang adaptasi dari game dan sebaliknya :

Rekomendasi Film Indonesia Yang Adaptasi Dari Game dan Sebaliknya Film Games

Gambar: Dampak peluncuran film DreadOut pada penjualan game membuat masyarakat menjadi sadar akan keberadaan game, selain itu, DreadOut tidak hanya diadaptasi menjadi film, tetapi juga menjadi komik di platform webcomic lokal bernama Ciayo

1. Proses adaptasi game DreadOut menjadi film

Satu-satunya game Indonesia yang diadaptasi menjadi film adalah DreadOut. Rachmad Imron yang merupakan CEO Digital Happiness menjelaskan tentang proses adaptasi game DreadOut menjadi film. Sebenarnya saat membuat game ini, perusahaannya memang telah mempersiapkan bentuk universe di beberapa media lain yang salah satunya adalah film. Dia juga menambahkan bahwa Digital Happiness memang sudah mendapatkan approach dari beberapa produser film dan production house. Namun, Kimo Stamboel yang dipilih menjadi sutradara film DreadOut karena dianggap paling sejalan dengan visi perusahaan dari sekian yang datang.

Imron juga menceritakan bahwa Digital Happiness hanya berperan sebagai creative consultant dalam pembuatam film DreadOut. Tugasnya adalah memberikan informasi tentang konsep dan lore yang ada dalam game tersebut. Sebab, perusahaan pada dasarnya telah memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada sutradar untuk menginterpretasi DreadOut menjadi sebuah film layar lebar. Selain itu, Imron juga menjelaskan bahwa dampak peluncuran film DreadOut pada penjualan game membuat masyarakat menjadi sadar akan keberadaan game. Sebenarnya DreadOut tidak hanya diadaptasi menjadi film, tetapi juga menjadi komik di platform webcomic lokal bernama Ciayo.

Rekomendasi Film Indonesia Yang Adaptasi Dari Game dan Sebaliknya Film Games

Gambar: Awal mula pembuatan game Dilan adalah obrolan santai antara tim Memories dan Pidi Baiq yang sama-sama tertarik agar IP Dilan dapat dinikmati lebih luas lagi dengan media yang sesuai dengan anak muda zaman sekarang

2. Game Dilan dibuat berdasarkan film

Apabila DreadOut menjadi contoh game Indonesia yang diangkat menjadi film, maka Dilan menjadi contoh sebaliknya. Pasalnya film yang diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Pidi Baiq ini telah dibuat menjadi sebuah game. Game Dilan dijadikan oleh Agate sebagai bagian dari Memories yang merupakan game visual dari novel mereka. Menurut Yuliana Xiaoling yang merupakan Product Manager Memories di Agate, Dilan sebenarnya adalah sebuah intellectual property yang telah berdiri sendiri. IP tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai produk turunan, seperti komik, novel, film, sampai merchandise.

Yuliana juga menjelaskan tentang awal mula pembuatan game Dilan adalah obrolan santai antara tim Memories dan Pidi Baiq. Keduanya sama-sama tertarik agar IP Dilan dapat dinikmati lebih luas lagi dengan media yang sesuai dengan anak muda zaman sekarang. Komik dan game menjadi pilihan dengan salah satu keunikannya adalah orang dapat merasakan menjadi Milea. Sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mengambil keputusan yang tidak mampu dilakukan hanya dari menonton film.

Rekomendasi Film Indonesia Yang Adaptasi Dari Game dan Sebaliknya Film Games

Gambar: Sangat memungkinkan untuk melakukan kolaborasi yang berdampak positif pada sebuah intellectual property apabila target audience masing-masing masih memiliki irisan karena tidak semua IP film memiliki game yang dapat dinikmati oleh banyak orang

3. Kemungkinan sebuah game diangkat menjadi film

Rekomendasi film Indonesia yang adaptasi dari game dan sebaliknya memiliki kemungkinan dengan tantangan yang harus siap dihadapi. Mengadaptasi game menjadi film atau sebaliknya di Indonesia adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Sebagaimana Product Manager Memories di Agate mengatakan bahwa perusahaannya juga berkolaborasi dengan IP besar lain seperti Mariposa. Menurutnya, sangat memungkinkan untuk melakukan kolaborasi yang berdampak positif pada brand IP sendiri apabila target audience masing-masing masih memiliki irisan. Lantaran tidak semua IP film memiliki game yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Tantangan dari segi game yang diadaptasi menjadi film adalah masih belum banyak game Indonesia yang diapresiasi oleh gamer lokal sendiri. Pasalnya, pemain lokal lebih sering memainkan game yang bukan karya dari developer lokal, seperti Mobile Legends dan PUBG. Sehingga, terkadang menyulitkan produser film untuk memvalidasi pasarnya. Inilah yang menyebabkan kebanyakan kreator film mencari konten dari webtoon karena pembaca dari judul tertentu dapat mencapai sekian juta penonton.

Proses pembuatan game dari sebuah IP film sebenarnya memiliki masalah tersendiri. Salah satunya adalah IP holder dari sebuah film terkadang kurang berani menyediakan investasi lebih untuk menghasilkan game yang bagus. Maksudnya bukan sekadar game iklan yang tujuannya hanya sebagai marketing gimmick. Selain itu, kebanyakan game developer lokal juga masih belum mempunya keberanian untuk melisensi sebuah film karena industrinya juga masih baru. Apalagi mengadaptasi film menjadi game juga memerlukan modal yang cukup besar. Itu adalah rekomendasi film Indonesia yang adaptasi dari game dan sebaliknya.

Selamat menonton! Kamu juga bisa melihat informasi dan rekomendasi seputar film lainnya di Tulizan Film.

Original Writer: https://www.instagram.com/deafolzen

What do you think?

Contributor

Written by Tulizan Film

Content AuthorYears Of Membership
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Foto Bohyung Spica Photoshoot untuk Digital Single 'You Don't Love Me' - Foto 2 dari 31

Tujuh Lagu Kpop Yang Underrated Padahal Enak Didengarkan

Mengenal Seo Taiji and Boys, Sang Pelopor Musik KPop Modern

Begini Sejarah Penetapan Generasi dalam Industri Hiburan Kpop